CARANECOM

Caranecom is a Informative Blogging, place of Information and Learning

Showing posts with label Project. Show all posts
Showing posts with label Project. Show all posts

Contoh Rumus Perhitungan Koefisien Tenaga Kerja


Koefisien Tenaga Kerja
Penggunaan tenaga kerja untuk mendapatkan koefisien tenaga kerja dalam satuan jam orang per satuan pengukuran (m¹, m², m³, ton, dan lain-lain).

Berikut ini rumus yang umum digunakan untuk menentukan koefisien tenaga kerja.

Produksi  (m³/hari),
Qt = Tk x Q1
Koefisien tenaga kerja/m³:
(L.01) Pekerja = (Tk x P) / Qt (jam)
(L.02) Tukang = (Tk x Tb) / Qt (jam)
(L.04) Mandor = (Tk x M) / Qt (jam)

Keterangan:
Qt : besar kapasitas produksi alat yang menentukan tenaga kerja(m³/jam);
P   : jumlah pekerja yang diperlukan (orang);
Tb : jumlah tukang batu yang diperlukan (orang);
TK: jumlah jam kerja per hari (7 jam);
M  : jumlah mandor yang diperlukan (orang).

Contoh analisis untuk menentukan koefisien tenaga kerja diperlihatkan seperti
contoh dalam Bagian III, Bidang Bina Marga, Lampiran E sampai dengan
Lampiran L.

Baca : Contoh Form data Curah Hujan Pek. Project Konstruksi

Standard Acuan AHSP (Analisa Harga Satuan Pekerjaan) sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 01 tahun 2022 disertai file Download format Pdf kunjungi link dibawah ini :

Standar Acuan AHSP Permen PUPR No. 01 Tahun 2022

 

METODE PENGUKURAN DAN PASANGAN BOWPLANK DI PROYEK

Salam Caranecom,

Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan dilapangan perusahaan terlebih dahulu akan melaksanakan pengukuran revisi uitzet situasi dan penampang penyesuaian gambar desain pelaksanaan yang berpedoman pada titik tetap yang telah ditentukan oleh Direksi Pekerjaan sebagai dasar Mutual Check awal (MC.0). Penyedia jasa memasang patok tetap, pada tempat yang tidak mudah berubah kedudukannya, serta patok-patok pembantu yang diberi nama dengan ukuran sesuai petunjuk dalam gambar atau sesuai peyunjuk dan arahan Direksi lapangan.

Pemasangan patok-patok tersebut terlebih dahulu telah mendapat persetujuan dari pengawas/Direksi lapangan.

Dokumen atau laporam data ukur wajib diadakan dan diserahkan pada pemberi tugas, dokumen tersebut antara lain :
* Buku data ukur yang telah diperiksa/disetujui
* Gambar hasil uitzet yang asli
* Gambar Revisi desain yang berdasarkan hasil uitzet yang akan menjadi dasar volume dan pelaksanaan diatur/ditetapkan oleh pemilik/pemberi tugas, sebagai dasar Mutual Check awal dan akhir.

Sebelum memulai tahapan metode pengukuran dan pasangan bowplank di lokasi pelaksanaan proyek,
Pelaksana pekerjaan sebagai kontraktor harus mendapat izin untuk memulai pekerjaan setelah uitzet dilaksanakan.

Pekerjaan Pengukura dilakukan untuk mengambil data dan kemudian diwujudkan dalam bentuk gambar yang menandakan keadaan awal lapangan.
 
Didalam pelaksanaan pekerjaan pengukuran ini, pihak kontraktor harus selalu berkoordinasi dengan pihak Direksi pekerjaan mengenai titik-titik referensi dan kemudian didapat titik-titik As Bangunan serta awal dan ujung bangunan nantinya.
Disetiap titik tersebut harus dibuat patok yang kuat dan terlihat oleh setiap pelaksana lapangan.

Setelah didapat data ukur kemudian dibuat gambar yang kemudian melalui gambar tersebut pihak kontraktor dapat melakukan perhitungan MC.0.

Setiap akan memulai pekerjaan proyek baru pasti haruslah terlebih dahulu melakukan pekerjaan pengukuran.
Pekerjaan pengukuran ini dilakukan untuk menentukan dimensi-dimensi pekerjaan dilapangan sesuai gambar kerja.
Selain itu, dengan dilakukannya pengukuran lapangan maka dapat menghitung volume MC.0 pekerjaan.

Pekerjaan Pengukuran ini dilakukan menggunakan alat ukur Theodolite, Waterpass dan atau TS.

Demikian artikel metode pengukuran dan pemasangan bouwplank di proyek ini. semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

Terima kasih
Salam Caranecom

Metode & Tahapan Pelaksanaan Pek. Pemancangan Beton

Pekerjaan Pemancangan
1. Umum
Pekerjaan ini terdiri dari penyediaan tiang pancang, pemancangan, penyambungan, pemotongan sesuai dengan persyaratan dalam Gambar Rencana serta uraian dalam spesifikasi ini. Termasuk juga dalam pekerjaan ini adalah penyediaan semua peralatan yang diperlukan balk dalam pembuatan, pemancangan, pemeliharaan tiang-tiang pancang tersebut serta pelaksanaan percobaan pembebanan pemancangan untuk memastikan daya dukung dari tiang-tiang pancang tersebut serta menentukan jumlah dan panjang tiang pancang yang akan dilaksanakan.

2. Metode Pelaksanaan
a. Sepatu Tiang Pancang
Tiang-tiang harus dilengkapi dengan sepatu yang mempunyai sumbu yang sama (coaxial), lancip atau datar, kalau akan dipancang ke dalam atau menembus batuan, batu kerikil, tanah liat dengan batu bulat, dan lain- lain tanah yang mungkin dapat merusak beton pada ujung tiang. Sepatu- sepatu itu dapat dibuat dari baja atau besi tuang.

b. Pengupasan Kepala Tiang Pancang
Beton harus dikupas sampai pada suatu elevasi sehingga beton yang tertinggal akan masuk 50 mm sampai 75 mm ke dalam poer. Untuk tiang -tiang beton bertulang, tulangan penguat tiang yang terbuka harus cukup panjang untuk dilekatkan secara penuh ke dalam poer. Pengupasan dari beton tiang harus dilakukan secara hati-hati untuk mencegah penghancuran atau merusak sisa dari tiang. Setiap beton yang cacat atau retak harus dipotong dan diperbaiki dengan beton baru yang diletakkan dengan tepat pada tempat yang lama.

c. Pemancangan
Tiang-tiang dapat dipancang dengan setiap jenis palu, asalkan tiang tersebut menembus pada kedalaman yang telah ditentukan atau mencapai daya dukung yang telah ditentukan, tanpa kerusakan. Palu, topi baja, bantalan topi dan tiang harus mempunyai sumbu yang sama dan harus duduk dengan tepat satu di atas lainnya. jika pemukulan tiang pancang sampai kedalaman yang ditentukan belum mencapai daya dukung tanah yang disyaratkan, maka harus diteruskan hingga kondisi final set. Berat atau kekuatan palu harus cukup untuk meyakinkan suatu penembusan terakhir tidak lebih dari 5 mm setiap pukulan, kecuali kalau mencapai batuan. Lebih baik menggunakan palu yang paling berat,mudah dan membatasi pukulan, demikian tidak akan merusak tiang. Bilamana memilih ukuran palu, harus diperhatikan apakah tiang akan dipancang pada suatu daya dukung yang telah ditentukan ataukah suatu kedalaman yang telah ditentukan.


Halaman : 1 2

Contoh Data Curah Hujan Untuk Proyek Konstruksi

Data curah hujan dalam pelaksanaan proyek merupakan data pencatatan suatu debit curah hujan dalam masa pelaksanaan pekerjaan berlangsung, hal ini dilakukan guna mengetahui efisiensi waktu pelaksanaan pekerjaan yang sedang dilaksanakan.

Mengingat setiap pelaksanaan pekerjaan konstruksi baik proyek Pemerintah maupun Swasta terdapat deadline waktu yang tertuang dalam jadwal waktu pelaksanaan, dimana fungsi data curah hujan ini perlu dibuat guna menyampaikan data efisiensi waktu yang tidak dapat terpenuhi dikarenakan adanya musim penghujan yang secara tidak langsung menhambat waktu pelaksanaan.

Berikut adalah contoh daftar data curah hujan berformat xls dapat di download pada link dibawah ini :


Data Curah Hujan xls : DOWNLOAD


Pengujian CBR - (California Bearing Ratio) Standard SNI

CBR (California Bearing Ratio) merupakan perbandingan antara beban penetrasi suatu lapisan tanah atau perkerasan terhadap bahan standar dengan kedalaman dan kecepatan penetrasi yang sama. Pedoman dasar untuk pengujian CBR Lapangan diatur dalam SNI 1738-2011 (Cara Uji CBR Lapangan).


Nilai California Bearing Ratio (CBR) adalah bilangan perbandingan (dalam persen) antara tekanan yang diperlukan untuk menembus tanah dengan piston berpenampang bulat seluas 3 inci² dengan kecepatan penetrasi 0,05 inci/menit terhadap tekanan yang diperlukan untuk menembus suatu bahan standard tertentu.

Langkah pengujian CBR laboratorium?
Pengujian CBR Laboratorium dilakukan dengan mencampurkan sampel tanah pada kadar air tertentu (yaitu pada kadar air optimum pada pengujian pemadatan). Sampel tanah yang dicampurkan dipadatkan dengan menggunakan batang penumbuk standar (proctor standard).

Cara perhitungan nilai CBR atau rumus uji CBR terdiri dari hal berikut ini:

Tentukan dahulu berapa beban yang bekerja pada torak/piston.
Lalu hitung tegangan pada setiap kenaikan penetrasinya.
Setelah itu plotkan hasilnya di setiap grafik kemudian buat kurvanya.
Cek kembali apakah kurvanya harus dikoreksi lagi atau tidak, kurva penetrasi ini bisa berbentuk lengkung ke atas sehingga biasanya harus dikoreksi lagi. Titik inisialnya pun bergeser dari titik sebelumnya yaitu titik nol.
Selanjutnya pakai hasil tegangan yang sudah terkoreksi untuk analisa perhitungan yang berikutnya.


Selanjutnya ambil tegangan yang ada pada penetrasi dengan ukuran sekitar 0,2 inchi/5,08 mm serta 0,1inchi/2,54 mm.
Perhitungan CBR yang dilakukan dengan pembagian pada tegangan standar yang ada yaitu 0,71 kg/mm2 (1000 Psi) untuk penetrasi 0,1 inch atau 2,54 mm dan 1,06 kg/mm2 (1500 Psi) untuk penetrasi 0,2 inch atau 5,08 mm.

Nilai daya dukung tanah dasar sangat dipengaruhi dan ditentukan dari nilai CBR pada tanah tersebut. Nilai daya dukung tanah dasar diperoleh melalui Grafik kolerasi DDT dan CBR. Semakin besar nilai CBR tanah dasar pada sebuah konstruksi jalan semakin besar pula Nilai daya dukung tanah dari jalan tersebut.

Pengujian Dynamic Cone Penetrometer (DCP)

Tes DCP atau Dynamic Cone Penetrometer adalah Cara uji ini suatu prosedur yang cepat untuk melaksanakan evaluasi kekuatan tanah dasar dan lapis fondasi jalan, dengan menggunakan Dynamic Cone Penetrometer, (DCP). Cara uji ini juga merupakan cara alternatif jika pengujian CBR lapangan tidak bisa dilakukan.

Untuk mendapatkan data tersebut di atas, telah diperkenalkan alat Penetrasi Konus Dinamis (Dynamic Cone Penetrometer), yaitu suatu alat yang dirancang untuk menguji kekuatan lapisan granular dan tanah dasar perkerasan jalan secara cepat.

Apa saja peralatan yang digunakan dalam melakukan tes DCP ini?
Untuk melakukan DCP test diperlukan beberapa peralatan dan perlengkapan penunjang seperti di bawah ini:

  1. Palu geser dengan berat 8 - 9,7 kg (20lb) dan memiliki tinggi jatuh sebesar 57,5 cm. Palu geser bergerak jatuh sepanjang batang baja dengan diameter 20 mm untuk memberikan tekanan pada landasan. 
  2. Batang utama baja keras dengan diameter 20 mm dan panjang 100 cm yang sudah disambungkan dengan konus yang terbuat dari baja keras dengan sudut 60 derajat atau 30 derajat. Pada batang baja dibuat skala dalam mm untuk setiap ujung konus yang masuk ke dalam tanah. 
  3. Hammer shaft (batang baja keras) berdiameter 20 mm dengan minimal 72 cm digunakan sebagai batang geser.
  4. Alat ukur berupa penggaris dan rol meter dengan panjang 100 cm, dan skala 0,50 cm

Tata cara pengujian DCP (Dynamic Cone Penetrometer)
Menggali permukaan tanah pada lokasi pengujian sampai pada kedalaman dimana pengukuran awal nilai CBR akan dievaluasi. Jika pengujian dilakukan pada badan jalan dengan perkerasan, singkirkan semua bahan perkerasan yang ada.

Letakkan alat DCP secara vertikal, berikan tumbukan awal secukupnya (seating blows), untuk menanamkan ujung kerucut sampai garis tengahnya yang terbesar terletak pada permukaan tanah yang akan diuji.

Pasang alat ukur dalam posisi vertikal, bersebelahan dengan batang penetrasi di permukaan tanah. Gunakan batas landasan pemukul sebagai datum pengukuran.



Lakukan penumbukan dengan palu yang dijatuhkan bebas, ukur dan catat kedalaman penetrasi untuk setiap tumbukan. Pekerjaan dilakukan oleh minimal dua orang.
Apabila jenis tanah yang diuji sangat keras (penetrasi kurang dari kira-kira 0,2 cm/tumbukan), berikan serangkaian tumbukan sebanyak 5 atau 10 kali, kemudian ukur kedalaman penetrasi yang terjadi.
Percobaan dihentikan apabila telah tercapai keadaan seperti berikut ini:

  • Tidak terdapat penurunan berarti untuk 10 tumbukan terakhir berturut-turut. 
  • Kedalaman penetrasi telah mencapai kedalaman/ketebalan lapisan yang hendak dievaluasi. 
  • Batang penetrometer telah masuk seluruhnya ke dalam tanah.

Mengeluarkan alat dari dalam tanah dengan jalan memukulkan palu dengan arah ke atas pada baut pembatas tinggi jatuh (stop nut).

pengecekan setiap kali akan melakukan percobaan, dengan mengatur baut pembatas tinggi jatuh pada posisi yang tepat.


Baca : Standard Acuan AHSP Permen PUPR No 01 Tahun 2022